Fenomena thrifting di Indonesia berkembang sebagai hasil perubahan sosial dan dinamika ekonomi global, yang awalnya berfungsi sebagai praktik penghematan dan solidaritas sosial, lalu bertransformasi menjadi gaya hidup modern di kalangan generasi muda. Perkembangan internet, media sosial, serta pasar barang bekas mempercepat penyebaran budaya thrifting , meskipun di sisi lain juga menimbulkan masalah terkait regulasi, kesehatan, dan legalitas barang bekas impor.
Buku ” Strategi Manajemen Resiko Brand Lokal Menghadapi Tren Thrift ” memberikan edukasi kepada pembaca mulai dari sejarah, perkembangan bisnis Thrift dan juga pola konsumsi masyarakat Indonesia terhadap jenis produk thrift serta tantanganya bagi pelaku usaha fashion lokal. Pergeseran pandangan sosial menjadikan pakaian hemat sebagai simbol kreativitas dan gaya hidup sadar lingkungan, meskipun tren ini juga menghadirkan tantangan bagi brand fashion lokal dalam menjaga daya saing dan loyalitas konsumen.
Dari sudut pandang sosial ekonomi, keberadaan thrift shop memberikan dampak yang bersifat ganda terhadap UMKM fashion lokal. Di satu sisi, thrift membuka peluang baru melalui inovasi bisnis, melakukan upcycling, dan penguatan ekonomi kreatif berbasis keingintahuan. Di sisi lain, dominasi barang bekas impor dengan harga murah menekan penjualan produk lokal, menurunkan pendapatan UMKM, serta berpotensi menggeser apresiasi terhadap produk dan identitas budaya nasional. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pada tingkat individu dan usaha kecil, tetapi juga mempengaruhi struktur sosial dan ekonomi masyarakat secara lebih luas.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pelaku usaha fashion lokal bagaiama seharusnya strategi manajemen bisnis, inovasi, dan rebranding yang adaptif bagi brand fashion lokal agar mampu bertahan dan berkembang di tengah gempuran budaya thrift . Pemanfaatan media sosial, penguatan identitas merek, penerapan prinsip kemiskinan, serta penerapan etika bisnis menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan dan melestarikan konsumen. Selain itu, sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem fesyen yang adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada penguatan produk lokal. Dengan pendekatan tersebut, tren thrift ing tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendorong transformasi positif industri fashion lokal Indonesia.









Reviews
There are no reviews yet.