Buku Sastra Lisan ini adalah sebuah manifesto untuk membebaskan sastra dari kungkungan kertas dan mengembalikannya ke jantung peradaban: suara manusia. Kita diajak untuk meruntuhkan sekat akademis yang kaku dan terjun langsung memburu “arsip berjalan” para empu cerita dan pelantun mantra yang membawa memori kolektif bangsa. Sastra lisan bukanlah fosil museum yang bisu, melainkan organisme liar dan kode genetik kebudayaan yang menyimpan kearifan ekologis serta navigasi moral untuk membedah dunia modern. Di laboratorium kreatif ini, tradisi kuno didekonstruksi agar dapat bersenyawa dengan teknologi mutakhir, memastikan identitas bangsa tetap beresonansi kuat di telinga Generasi Z di tengah kebisingan era digital.
Sebagai pijakan batin, semangat ini selaras dengan filosofi tembang Pangkur dari serat Wedhatama: “Lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.” Kutipan ini menegaskan bahwa segala niat luhur harus dimulai dengan kemauan teguh (kas) yang membawa kekuatan sentosa (nyantosani), sehingga kesetiaan pada budi dan budaya (setya budya) mampu menaklukkan segala keburukan (dur angkara). Melalui buku ini, kita bertransformasi menjadi penjaga api dan penyambung lidah zaman yang tidak sekadar menonton sejarah, melainkan aktif menuturkannya kembali. Ingatlah bahwa sastra lisan hanya akan mati jika kita kehilangan keberanian untuk menyuarakannya; maka, pastikan api cerita ini tetap menyala melintasi ruang dan waktu.









Reviews
There are no reviews yet.